TIPE ATAU
BENTUK ORGANISASI
Tipe
Organisasi
Dalam
organisasi di Indonesia saat bermacam -macam bentuk organisasi baik bersifat
organisasi kemasyarakatan ,atau organisasi partai politik.Bahkan dalam
pemerintahan di katakan organisasi beskala nasional.karena organisasi itu
terdiri dari anggota dan pengurus.Di dalam bentuk organisasi dapat kita bedakan
sebagai berikut:
1.
Piramida Mendatar (Flat)
menpuanyai ciri-ciri diantaranya :
menpuanyai ciri-ciri diantaranya :
1)
Jumlah
satuan organisasi tidak banyak sehingga tingkat-tingkat hararki kewenangan
sedikit.
2)
jumlah
pekerja(bawahan) yang harus dikendalikan cukup banyak
3)
Format
jabatan untuk tingkat pimpinan sedikit karena jumlah pimpinan relatif kecil,di
negara kita bisa kita lihat misal nya organisasi kemiliteran.
2.
Piramida Terbalik.
Organisasi piramida terbalik adalah kebalikan dari tipe piramida terbalik adalah jumlah jabatan pimpinan lebih besar daripada jumlah pekerja. Organisasi ini hanya cocok untuk organisasi-organisasi yang pengangkatan pegawainya berdasarkan atas jabatan fungsional seperti organisasi-organisasi/ lembaga-lembaga penelitian, lembaga-lembaga pendidikan.
Organisasi piramida terbalik adalah kebalikan dari tipe piramida terbalik adalah jumlah jabatan pimpinan lebih besar daripada jumlah pekerja. Organisasi ini hanya cocok untuk organisasi-organisasi yang pengangkatan pegawainya berdasarkan atas jabatan fungsional seperti organisasi-organisasi/ lembaga-lembaga penelitian, lembaga-lembaga pendidikan.
3.
Type Kerucut
type organisasi kerucut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
type organisasi kerucut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1) Jumlah satuan organisasi banyak
sehingga tingkat-tingkat hirarki/kewenangan banyak.
2) Rentang kendali sempit.
3) Pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab kepada penjabat/pimpinan yang bawah/rendah
4) Jarak antara pimpinan tingkat atas
dengan pimpinan tingkat bawah terlalu jauh.
5) Jumlah informasi jabatan cukup
besar.
Bentuk
Organisasi
Dalam berorganisasi tentu mempunyai bentuk bentuk organisasi
Dalam berorganisasi tentu mempunyai bentuk bentuk organisasi
1. Organisasi Garis atau Line
yaitu bentuk / struktur organisasi
yang paling tua dan paling sederhana
diciptakan oleh Henry Fayol.
Ciri-ciri tipe organisasi garis ini adalah
- Organisasi masih kecil
- Jumlah karyawan sedikit
-Spesialisasi kerja masih kecil
Keuntungannya adalah :
-Mudah dimengerti dan dilaksanakan
-Ada bagian kekuasaan dan tanggung jawab yang jelas
-Merupakan jenis organisasi yang stabil
-Proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat
-Solidaritas karyawan yang tinggi karenan saling mengenal
Kerugiannya adalah :
-Seluruh orang terlalu bergantung pada satu orang
-Bersifat otokratis dan dapat menjadi diktatoris
-Kesempatan karyawan untuk berkembang sangat terbatas
-Sulit dilaksanakan dalam suatu organisasi yang besar
Ciri-ciri tipe organisasi garis ini adalah
- Organisasi masih kecil
- Jumlah karyawan sedikit
-Spesialisasi kerja masih kecil
Keuntungannya adalah :
-Mudah dimengerti dan dilaksanakan
-Ada bagian kekuasaan dan tanggung jawab yang jelas
-Merupakan jenis organisasi yang stabil
-Proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat
-Solidaritas karyawan yang tinggi karenan saling mengenal
Kerugiannya adalah :
-Seluruh orang terlalu bergantung pada satu orang
-Bersifat otokratis dan dapat menjadi diktatoris
-Kesempatan karyawan untuk berkembang sangat terbatas
-Sulit dilaksanakan dalam suatu organisasi yang besar
2. Organisasi Fungsional
Tipe ini diciptakan oleh F.W.Taylor . Dalam tipe ini ada pimpinan yang mempunyai bawahan yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap bawahan sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut.
Keuntungan Tipe ini adalah :
- Dapat diperolejh manfaat yang sebesar-besarnya dari para ahli
- Ada koordinasi yang baik
-Memudahkan dalam pengawasan
Kerugian tipe ini adalah :
-Banyak mengeluarkan biaya tambahan
- Kekembaran kekuasaan dapat menimbulkan perselisihan / konflik
-Pandangan para pekerja yang merasa terlalu banyak atasan.
Tipe ini diciptakan oleh F.W.Taylor . Dalam tipe ini ada pimpinan yang mempunyai bawahan yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap bawahan sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut.
Keuntungan Tipe ini adalah :
- Dapat diperolejh manfaat yang sebesar-besarnya dari para ahli
- Ada koordinasi yang baik
-Memudahkan dalam pengawasan
Kerugian tipe ini adalah :
-Banyak mengeluarkan biaya tambahan
- Kekembaran kekuasaan dapat menimbulkan perselisihan / konflik
-Pandangan para pekerja yang merasa terlalu banyak atasan.
3. Organisasi Garis dan Staf
Tipe ini merupakan gabungan dari tipe garis dan fungsional, sehingga menyebar struktur orgasnisasi tersebut.
Tipe ini merupakan gabungan dari tipe garis dan fungsional, sehingga menyebar struktur orgasnisasi tersebut.
4. Organisasi Fungsional dan Staf
Tipe ini adalah perpaduan antara tipe orrganisasi garis, fungsional dan staf.
Tipe ini adalah perpaduan antara tipe orrganisasi garis, fungsional dan staf.
5. Organisasi Fungsional
dan Lini
SKEMA ORGANISASI
Satuan
organisasi yang mempunyai hubungan dan saluran wewenang dan tanggung jawab yang
ada dalam organisasi.jadi arti organisasi dan tipe organisasi sering disamakan,
padahal keduanya berbeda. Menurut tipenya organisasi dibedakan menjadi dua
macam, yaitu organisasi dengan tipe piramid dan organisasi dengan tipe kerucut.
Bentuk organisasi memandan dari segi tata hubungan , wewenang , dan tanggung
jawab yang ada dalam suatu organisasi.
Menurut
Keith Davis ada 4 bagan bentuk skema organisasi yaitu :
1.
Bentuk Vertikal
Dalam bentuk ini, sistem organisasi pimpinan sampai organisasi atau pejabat yang lebih rendah digariskan dari atas ke bawah secara vertikal.
Dalam bentuk ini, sistem organisasi pimpinan sampai organisasi atau pejabat yang lebih rendah digariskan dari atas ke bawah secara vertikal.
2.
Bentuk Mendatar / Horizontal
Dalam bentuk ini, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun atau digariskan dari kiri kea rah kanan atau sebaliknya.
Dalam bentuk ini, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun atau digariskan dari kiri kea rah kanan atau sebaliknya.
3.
Bentuk Lingkaran
Dalam bentuk lingkaran, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinana sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran ke aarah bidang lingkaran.
Dalam bentuk lingkaran, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinana sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran ke aarah bidang lingkaran.
4.
Bentuk Setengah Lingkaran
Dalam bentuk ini, saluran wewenang dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran kea rah bidang bawah lingkaran atau sebaliknya
Dalam bentuk ini, saluran wewenang dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran kea rah bidang bawah lingkaran atau sebaliknya
PENGERTIAN KONFLIK
Konflik adalah perbedaan yang
dirasakan sesorang terhadap orang lain atau lingkungannya.
Proses
sosial yang terjadi ketika pihak yang satu berusaha menyingkirkan pihak lain
dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Permusuhan atau
konflik diawali dengan adanya perbedaan atau persaingan yang serius sehingga sulit didamaikan atau ditemukan
kesamaannya. Sebenaranya konflik dapa sangat wajar terjadi dalam sebuah
interaksi sosial.
Ada
beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.
1.
Menurut Taquiri dalam Newstorm dan
Davis (1977)
konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh
berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan
ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih
pihak secara berterusan.
2.
Menurut Gibson, et al (1997: 437)
hubungan selain dapat
menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan
konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki
kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama
lain.
3.
Menurut Robbin (1996)
keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi
individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam
organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya,
jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka
konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4.
Muchlas (1999)
Dipandang sebagai
perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan
individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini
terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
5.
Menurut Minnery (1985)
Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih
pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan
oleh perbedaan tujuan.
6.
Robbins (1993)
Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris
terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik
tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau
akan menyerang secara negatif.
7.
Pace & Faules (1994:249).
Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan
individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam
pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih
individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami.
8.
Folger & Poole: (1984)
Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui
perilaku-perilaku komunikasi.
9.
Myers (1982:234-237); Kreps
(1986:185); Stewart (1993:341).
Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama,
yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan,
keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat.
10. Devito
(1995:381)
Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu
dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level
yang berbeda – beda.
11. Robbin
(1996: 431)
mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The
Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat
meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan
organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi
menjadi tiga bagian, antara lain:
1) Pandangan tradisional (The
Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk,
sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan
dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan
suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan,
keterbukaan di antara orang – orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap
terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.
2) Pandangan hubungan manusia (The
Human Relation View. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai
suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik
dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok
atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota.
Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna
mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus
dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam
tubuh kelompok atau organisasi.
3) Pandangan interaksionis (The
Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau
organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang
kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak
aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik
perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap
anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.
12. Stoner
dan Freeman (1989:392)
membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan
tradisional (Old view) dan pandangan modern (Current View):
1) Pandangan tradisional. Pandangan
tradisional menganggap bahwa konflik dapat dihindari. Hal ini disebabkan
konflik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan yang
optimal. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang optimal, konflik harus
dihilangkan. Konflik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang
dan memimpin organisasi. Dikarenakan kesalahan ini, manajer sebagai pihak
manajemen bertugas meminimalisasikan konflik.
2) Pandangan modern. Konflik tidak
dapat dihindari. Hal ini disebabkan banyak faktor, antara lain struktur
organisasi, perbedaan tujuan, persepsi, nilai – nilai, dan sebagainya. Konflik dapat
mengurangi kinerja organisasi dalam berbagai tingkatan. Jika terjadi konflik,
manajer sebagai pihak manajemen bertugas mengelola konflik sehingga tercipta
kinerja yang optimal untuk mencapai tujuan bersama.
13. Myers
(1993:234)
Selain pandangan menurut Robbin dan Stoner dan Freeman,
konflik dipahami berdasarkan dua sudut pandang, yaitu: tradisional dan kontemporer.
1) Dalam pandangan tradisional, konflik
dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus dihindari. Pandangan ini sangat
menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya
suatu kelompok atau organisasi. Bahkan seringkali konflik dikaitkan dengan
kemarahan, agresivitas, dan pertentangan baik secara fisik maupun dengan
kata-kata kasar. Apabila telah terjadi konflik, pasti akan menimbulkan sikap
emosi dari tiap orang di kelompok atau organisasi itu sehingga akan menimbulkan
konflik yang lebih besar. Oleh karena itu, menurut pandangan tradisional,
konflik haruslah dihindari.
2) Pandangan kontemporer mengenai
konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak
dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia. Namun, yang
menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konflik, tapi bagaimana
menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan
merusak tujuan organisasi. Konflik dianggap sebagai suatu hal yang wajar di
dalam organisasi. Konflik bukan dijadikan suatu hal yang destruktif, melainkan
harus dijadikan suatu hal konstruktif untuk membangun organisasi tersebut, misalnnya
bagaimana cara peningkatan kinerja organisasi.
14. Stewart
& Logan (1993:341)
Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut
komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti
kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik
mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang
buruk. Menurut Myers, Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang
berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan
makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik (1982: 234). Konflik pun tidak
hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti
dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan. Konflik
tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua
pihak yang berseteru, tetapi juga diidentifikasikan sebagai ‘perang dingin’
antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang
mengandung amarah.
15. Stewart
& Logan (1993:342)
Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi
sumber pengalaman positif. Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi
sarana pembelajaran dalam memanajemen suatu kelompok atau organisasi. Konflik
tidak selamanya membawa dampak buruk, tetapi juga memberikan pelajaran dan
hikmah di balik adanya perseteruan pihak – pihak yang terkait. Pelajaran itu
dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang
kembali di masa yang akan datang dan bagaimana cara mengatasi konflik yang sama
apabila sewaktu – waktu terjadi kembali.
JENIS-JENIS
KONFLIK DAN SUMBER KONFLIK
JENIS-JENIS
KONFLIK
Ada lima jenis konflik dalam
kehidupan organisasi :
1.
Konflik dalam diri individu
Konflik terjadi bila pada waktu yang
sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
2.
Konflik antar individu
dalam organisasi yang sama karena
pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua
orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
3.
Konflik antar individu dan kelompok
seringkali berhubungan dengan cara
individumenghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan
kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
4.
Konflik antar kelompok dalam
organisasi yang sama
Konflik ini merupakan tipe konflik
yang banyak terjadi di dalam organisasiorganisasi.Konflik antar lini dan staf,
pekerja dan pekerja.
5.
Konflik antar organisasi
konflik ini biasanya disebut dengan
persaingan.
Menurut
Dahrendorf
konflik dibedakan menjadi 7 macam :
1)
Konflik antara atau dalam peran sosial
(intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi
(konflik peran (role).
2)
Konflik antara kelompok-kelompok sosial
(antar keluarga, antar gank).
3)
Konflik kelompok terorganisir dan tidak
terorganisir (polisi melawan massa).
4)
Konflik antar satuan nasional (kampanye,
perang saudara)
5)
Konflik antar atau tidak antar agama
6)
Konflik antar politik.
7)
konflik individu dengan kelompok
SEBAB-SEBAB TIMBULNYA KONFLIK
1. Perbedaan antar individu yang
meliputi Pendirian
Setiap manusia adalah
individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian yang berbeda-beda
satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan tentang sesuatu hal atau
lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial karena
dalam menjalin hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan
kelompoknya. Contoh : Bu Salma
menginginkan anaknya menjadi dokter karena ia adalah seorang dokter. Tetapi Pak
Supratman menginginkan anaknya menjadi politikus seperti ayahnya. Merekapun bersitegang mengenai
pendirian mereka.
2. Perbedaan antara individu yang
meliputi Perasaan
Contoh
:
Ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap
warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi
ada pula yang merasa terhibur.
3. Perbedaan kepentingan Kelompok
Manusia memiliki
perasaan, pendirian, maupun latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, dalam
waktu yang bersamaan, tiap-tiap orang atau kelompok memiliki kepentingan yang
berbeda-beda.
Contoh
:
Perbedaan kepentingan misalnya dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh
masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari
kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani
menebang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk
membuat kebun atau ladang.
4. Perbedaan kepentingan Individu
Contoh
:
Ketika Hanifan sedang mengerjakan tugas sekolahnya dengan menggunakan komputer,
tiba-tiba Hasan adiknya memaksa bergantian karena ia ingin bermain game. Mereka
pun bertengkar berebut menggunakan komputer.
5. Perbedaan Kebudayaan
Seseorang sedikit
banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan kebudayaan kelompoknya.
Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan
perbedaan individu yang memicu konflik
Contoh
:
Indonesia yang menjunjung tinggi budaya timur yang berpakaian sopan dan tata
krama yang baik menentang budaya barat yang bersifat kebalikan dari budaya
Indonesia. Penduduk yang tidak suka pun berunjuk rasa menentang budaya barat.
6. Situasi yang saling bertolak
belakang atau kesenjangan
Kesenjangan terutama
dalam bidang ekonomi yang terlalu lebar antar kelompok-kelompok dalam
masyarakat sangat berpotensi menjadi penyebab konflik.
Contoh
:
7. Perbedaan cara mencapai tujuan
Perbedaan cara
sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika saling menyesuaikan. Namun, jika
cara yang digunakan untuk mencapai tujuan sifatnya bertentangan, sulit
menghindarkan terjadinya konflik.
Contoh
:
Pak Sukiran dan Pak Miskan adalah saingan di pilkada kota X. Pak Sukiran
mencari simpati rakyat lewat pidato dan kampanye-kampanye. Sedangkan Pak Miskan
ingin memenangka pemilu dengan “membeli” suara. Lantas Pak Sukiran yang
mengetahui hal ini melaporkan Pak Toto ke KPUD kota X
8. Ketidaksamaan status
Ketidaksamaan status
pasti akan menimbulkan perbedaan dalam hak dan kewajiban. Inilah yang rawan
menimbulkan konflik, terlebih lagi jika ada anggota masyarakat yang mulai
mempertanyakan hak yang diterimanya lebih sedikit dibanding anggota lain, tetapi
kewajibannya lebih banyak.
Contoh
:
Pak Agus baru saja meninggal. Pak Agus mewariskan 70% hartanya kepada Andi,
anak pertamanya. Padahal menurut Arief anak kedua Pak Agus beranggapan bahwa
ialah yang merawat dan mengurusi bapaknya ketika sakit. Arief pun menuntut
haknya untuk mendapat warisan yang lebih besar.
9. Adanya perubahan sosial yang cepat
dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan adalh sesuatu
yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika terjadinya secara mendadak akan
membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi
upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan
tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.
Contoh:
pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak
akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat
tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi
nilai-nilai masyarakat industri.
STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK
1. Koersi
bentuk akomodasi yang
prosesnya melalui paksaan fisik atau psikologis
Contoh: Pada tahun
1998, mahasiswa yang tidak puas dengan keadaan pemerintah menduduki gedung DPR
yang akhirnya memaksa Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden.
2. Kompromi
bentuk akomodasi dengan
cara pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu
penyelesaian
Contoh: Negara A dan
Negara B bersengketa tentang batas daerah mereka. Negara A mengklaim bahwa
mereka memiliki daerah laut yang lebih luas sedangkan Negara B mengklaim banyak
budaya di Negara A yang diambil dari Negara B. Demi mencegah perang antar dua
negara akhirnya Negara A pun megurangi luas laut yang mereka klaim.
3. Arbitrase
cara untuk mencapai
sebuah kompromi melalui pihak ketiga karena pihak-pihak yang bertikai tidak
mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Pihak ketiga dipilih oleh kedua pihak
atau pihak yang berwenang
Contoh : Perjanjian Jenewa
merupakan upaya untuk mengakhiri konflik antara kaum komunis dan non
komunis yang membagi Vietnam menjadi 2 yaitu Vietnam Utara dan
Selatan.
4. Mediasi
hampir sama seperti
arnitrase tetapi pihak ketiga netral hanya sebagai penasihat yang tidak
berwenang mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah.
Contoh : PBB membantu
menyelesaikan persengketaan antara Indonesia dengan Belanda mengenai daerah
Irian Barat yang merupakan kekuasaan Indonesia.
5. Konsiliasi
suatu usaha untuk
mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak yang bertikai untuk mencapai suatu
kesepakatan.
Contoh : Pertemuan
beberapa partai politik di dalam lembaga Legislatif untuk duduk bersama
menyelesaikan perbedaan-perbedaan sehingga dicapai kesepakatan bersama.
6. Toleransi
suatu bentuk akomodasi
yang terjadinya tanpa persetujuan formal.
Contoh: Pada bulan
puasa, umat non-muslim berusaha menghargai umat Islam yang sedang berpuasa
dengan tidak minum di sembarang tempat agar tidak terjadi kesitegangan.
7. Stalemate
tiap-tiap pihak yang
bertikai memiliki kekuatan seimabang sehingga pertikaian tersebut akhirnya
berhenti pada titik tertentu atau kemacetan yang mantap.
Contoh : Adu senjata
antara Amerika dan Uni Soviet semasa perang dingin seimbang.
8. Ajudikasi
suatu usaha
menyelesaikan masalah melalui pengadilan.
Contoh : PT. Surya
Kencana menuntut Susanto atas korupsi yang ia lakukan selama bekerja di PT.
Surya Kencana. PT Surya Kencana mengalami kerugian 10 Milyar karena ulahnya.
9. Segresi
tiap-tiap pihak
meisahkan diri dan saling menghindar dalam rangka mengurangi ketegangan.
Contoh : Heri dan Sovi
telah lama berpacaran dan kahirnya mereka mengakhiri hubungan mereka. Untuk
menghindari konflik mereka pura-pura tidak kenal jika saling berpapasan.
10. Eliminasi
pengunduran diri salah
satu pihak yang terlibat dalam konflik karena mengalah.
Contoh: Ketika Final
Copa Indonesia tahun 2009, Persipura yang tertinggal 0-1 dari lawannya
Sriwijaya mundur dari pertandingan dan Sriwijaya menang W.O
11. Subjugation
pihak yang mempunyai
kekuatan besar meminta pihak lain untuk menaatinya.
Contoh: kekuasaan
Apartheid pada pemerintahan Afrika Selatan pada jaman dulu menyebabkan dominasi
yang besar bagi kulit putih dan memaksa kulit putih untuk menaatinya.
12. Keputusan mayoritas
keputusan yang diambil
berdasarkan suara terbanyak dalam voting.
Contoh: Ketika terjadi
perselisihan antara kampung Kedung Sari Dengan PT. Terus Maju mengenai
pendirian Mal di dekat Kampung Kedung Sari, kedua belah pihak memeutuskan
melakukan voting dan akhirnya pendirian Mal pun tidak jadi dilakukan.
13. Minority consent
golongan minoritas yang
tidak merasa dikalahkan, tetapi dapat melakukan kegiatan bersama.
Contoh :
14. Konversi
penyelesaian konflik
dengan cara salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak
lain.
Contoh : Suprianto
terlibat konflik dengan Supardi. Suprianto memaksa Supardi untuk mengakuinya
sebagai yang terbaik dalam kekuatan fisik. Mereka pun beradu push-up dan
ternyata Suprianto menyerah karena kelelahan. Suprianto pun mengakui Supardi
lebih kuat dari padanya.
15. Gencatan Senjata
pengangguhan permusuhan
dalam jangka waktu tertentu.
Contoh: Perang saudara
yang terjadi di daerah Afrika ditangguhkan untuk beberapa waktu karena Piala
Dunia 2010.
TEORI-TEORI
MOTIVASI
Motivasi
dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan
tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik
yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun
dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
1.
Teori
Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
1) kebutuhan fisiologikal
(physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex.
2) kebutuhan rasa aman (safety needs),
tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan
intelektual.
3) kebutuhan akan kasih sayang (love
needs).
4) kebutuhan akan harga diri (esteem
needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status.
5) aktualisasi diri (self actualization),
dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi
yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki.
Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
1) Kebutuhan yang satu saat sudah
terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
2) Pemuasaan berbagai kebutuhan
tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif
menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
3) Berbagai kebutuhan tersebut tidak
akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana
seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak
lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi
pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya
yang lebih bersifat aplikatif.
2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan
Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
3.
Teori
Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan).
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan).
Apabila teori Alderfer disimak lebih
lanjut akan tampak bahwa :
1)
Makin
tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk
memuaskannya;
2)
Kuatnya
keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila
kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
3)
Sebaliknya,
semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar
keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
PROSES MEMPENGARUHI DALAM ORGANISASI
Pengaruh adalah suatu kegiatan atau keteladanan yang
menunjukan hal baik,yang dilakukan secara langsung ataupun secara tidak
langsung, sehingga mengakibatkan suatu perubahan perilaku sikap, baik itu
individu atau kelompok.
Segala
sesuatu memerlukan proses, termasuk proses untuk mencapai tujuan pribadi maupun
kelompok dalam organisasi. Dalam mencapai tujuan organisasi baik pemimpin
maupun anggota memiliki tanggung jawab masing-masing. Pemimpin dan anggota
berhubungan timbal balik dan kinerjanya akan saling mempengaruhi dalam mencapai
tujuan organisasi. Pengaruh adalah kegiatan yang secara langsung atau tidak
langsung mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau
kelompok.
Elemen
proses mempengaruhi ada 3 yaitu
1)
Orang
yang mempengaruhi
2)
Metode
yang mempengaruhi
3)
Orang
yang dipegaruhi
Memang
dalam organisasi tugas pemimpin adalah mempengaruhi anggota yang dipimpinnya
tersebut agar bertindak baik untuk mencapai visi dan misi dalam organisasi.
Tetapi perilaku anggota organisasi juga dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan
dari pemimpin. Proses saling mempengaruhi memiliki metode yang diantaranya
adalah sebagai berikut:
1)
Kekuatan fisik
Metode ini dilakukan menggunakan
fisik, seperti menggunakan tangan dalam mempengaruhi individu maupun kelompok
(berhubungan dengan kekerasan).
2)
Penggunaan sanksi
Metode ini dilakukan dengan memberikan sanksi
kepada individu maupun kelompok, sanksi yang diberikan berupa sanksi positif
maupun negatif.
3)
Keahlian
Metode ini dilakukan dengan
keahlian, seseorang yang mempengaruhi mempunyai keahlian dalam mempengaruhi
individu maupun kelompok.
4)
Kharisma (daya tarik)
Pada metode ini seseorang yang
dipengaruhi akan tertarik kepada orang yang mempengaruhi, karena orang tersebut
memiliki kharisma tanpa harus menggunakan kekuatan fisik, sanksi maupun
keahlian.
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan adalah
tindakan pemilihan alternatif. Hal ini berkaian dengan fungsi manajemen.
Menurut Herbert A. Simon, ahli teori kepufusan dan organisasi.
mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses pengambilan keputusan:
1)
Aktivitas inteligens
2)
Aktivitas desain
3) Aktivitas memilih.
Dan definisnya sebagai berikut :
1) Aktivitas inteligensi. Berasal
dari pengertian militer "intelligence," Simon mendeskripsikan tahap
awal ini sebagai penelusuran kondisi lingkungan yang memerlukan pengambilan
keputusan.
2) Aktivitas desain. Selama
tahap kedua, mungkin terjadi tindakan penemuan, pengembangan, dan analisis masalah.
3) Aktivitas memilih. Tahap
ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan sebenarnya-memilih tindakan tertentu
dari yang tersedia.
Konsep konsep pengambilan keputusan :
1)
Identifikasi dan
diagnosis masalah
2)
Pengumpulan dan
analisis data yang relevan
3)
Pengembangan
& evaluasi alternantif
4)
Pemilihan
alternatif terbaik
5)
Implementasi
keputusan & evaluasi terhadap hasil -hasil
Tipe –Tipe Keputusan
Manajemen :
1)
Keputusan-keputusanperseorangan
dan strategi
2)
Kepusan-keputusan
pribadi & strategi
3)
Keputusan-keputusan
dasar & rutin
Model-model Pengambilan
Keputusan :
1)
Relationalitas
Keputusan
2)
Model-model perilaku
pengambilan keputusan
Teknik Pengambilan
Keputusan :
1)
Teknik -teknik
Kreatif: Brainstorming & Synectics
2)
Teknik -teknik Partisipatif
3)
Teknik -teknik
pengambilan keputusan Modern : Teknik Delphi, Teknik Kelompok Nominal
Kesimpulan
1. TIPE ATAU BENTUK ORGANISASI
Tipe Organisasi
1) Piramida Mendatar (Flat)
2) Piramida Terbalik.
3) Type Kerucut
Bentuk Organisasi
1)
Bentuk Organisasi Garis atau Line
2)
Bentuk Organisasi Fungsional
3)
Bentuk Organisasi Garis dan Staf
4)
Bentuk Organisasi Fungsional dan Staf
5)
Bentuk Organisasi Fungsional dan Lini
2.
SKEMA
ORGANISASI
Menurut Keith Davis ada 4 bagan bentuk skema organisasi
yaitu :
1) Bentuk Vertikal
2) Bentuk Mendatar / Horizontal
3) Bentuk Lingkaran
4) Bentuk Setengah Lingkaran
3.
PENGERTIAN
KONFLIK
Konflik adalah
perbedaan yang dirasakan sesorang terhadap orang lain atau lingkungannya.
4.
JENIS-JENIS
KONFLIK
Ada lima jenis konflik dalam kehidupan:
1)
Konflik
dalam diri individu
2)
Konflik
antar individu
3)
Konflik
antar individu dan kelompok
4)
Konflik
antar kelompok dalam organisasi yang sama
5)
Konflik
antar organisasi
5.
SEBAB-SEBAB
TIMBULNYA KONFLIK
1)
Perbedaan antar individu yang meliputi
Pendirian
2)
Perbedaan antara individu yang meliputi
Perasaan
3)
Perbedaan kepentingan Kelompok
4)
Perbedaan kepentingan Individu
5)
Perbedaan Kebudayaan
6)
Situasi yang saling bertolak belakang
atau kesenjangan
7)
Perbedaan cara mencapai tujuan
8)
Ketidaksamaan status
9)
Adanya perubahan sosial yang cepat dan
mendadak dalam masyarakat
6. STRATEGI
PENYELESAIAN KONFLIK
1)
Koersi
2)
Kompromi
3)
Arbitrase
4)
Mediasi
5)
Konsiliasi
6)
Toleransi
7)
Stalemate
8)
Ajudikasi
9)
Segresi
10)
Eliminasi
11)
Subjugation
12)
Keputusan mayoritas
13)
Minority Consent
14)
Konversi
15)
Gencatan Senjata
7. TEORI-TEORI MOTIVASI
Motivasi dapat diartikan sebagai
kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan
entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam
diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu
(motivasi ekstrinsik).
8.
PROSES MEMPENGARUHI
DALAM ORGANISASI
Proses saling mempengaruhi memiliki metode yang diantaranya
adalah sebagai berikut:
1)
Kekuatan fisik
2)
Penggunaan sanksi
3)
Keahlian
4)
Kharisma (daya tarik)
9.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
ahli teori kepufusan dan organisasi. mengonseptualisasikan
tiga tahap utama dalam proses pengambilan keputusan:
1)
Aktivitas inteligens
2)
Aktivitas desain
3)
Aktivitas memilih.
Daftar Pustaka
http://abdulghanni.blogspot.com/2012/01/proses-organisasi-proses-mempengaruhi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar